Pengaruh Status Gizi Ibu dan Suksesnya Saat Menyusui

Bila kebutuhan energi wanita usia reproduksi sebesar 2100 kcal/hari, seorang ibu menyusui memerlukan asupan rata rata 2700 kcal dalam kesehariannya. Tambahan sebesar 500-700 kcal tersebut tak lain diperlukan Untuk keperluan biosintesis ASI. Ekstra energi tersebut pun tidak semuanya harus didapatkan dari intake makanan yang dikonsumsi busui sehari hari. 200 kcal ternyata telah tersedia di tubuh ibu berupa cadangan deposit yang telah dibentuk sejak dimulainya proses kehamilan. Sisa 300-500 kcal/hari lah yang baru diharapkan diperoleh dari intake makanan keseharian sang ibu. Jadi tidak tepat bila dikatakan seorang busui harus makan dengan porsi “besar besaran” agar tidak kelaparan dan produksi ASI lancar.

Hubungan antara data antropometri sang busui – misalnya Body Mass Index (BMI)- dengan volume atau energi yang dihasilkan dari ASI juga tidak dapat dibuktikan keterkaitannya hingga saat ini. Studi studi ilmiah bahkan membuktikan bahwa dengan status gizi ibu yang marjinal, kuantitas ASI yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan sang bayi.

Data antropometri sendiri, misalnya BMI,biasanya akan berpengaruh terhadap berat badan bayi yang akan dilahirkan, namun tak ada kaitannya dengan produksi ASI. Karenanya busui yang kurus, normal ataupun “overweight” sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan volume produksi ASI yang dihasilkan. Dengan bekal keyakinan produksi ASI akan mencukupi kebutuhan si kecil dan seringnya intensitas si kecil menyusu pada ibu, maka akan dijamin produksi ASI akan sesuai dengan kebutuhan sang buah hati.Pemberian ASI turunkan BB?

Pemberian ASI yang tepat akan mengakibatkan turunnya berat badan (BB) ibu pada masa periode menyusui. Penurunan BB ini akan tetap terjadi walau tanpa dilakukannya upaya diet yang “nota bene” terlarang pada masa laktasi.
Seorang busui yang melakukan upaya pemberian ASI di enam bulan pertama kehidupan si kecil umumnya akan mengalami penurunan BB sebesar 0,6-0.8 kg/kg BB/bulan. Menyusui eksklusif dengan manajemen laktasi yang tepat bahkan akan menyebabkan penurunan BB yang optimal. Pemberian ASI setelah bayi berusia enam bulan juga akan mengakibatkan turunnya BB sang ibu, walau dengan percepatan yang lebih rendah dibandingkan enam bulan pertama menyusui.

Keberhasilan penurunan berat badan ini ternyata juga dipengaruhi oleh beberapa faktor terkait. Modus menyusui yang benar, pengaturan asupan kalori perhari sesuai dengan anjuran bagi busui, aktivitas tubuh yang memadai dan penambahan BB saat hamil yang ideal (sesuai dengan BMI yang dimiliki) adalah beberapa faktor yang berpengaruh terhadap “sukses” turun BB selama masa laktasi.

Sayangnya memang banyak wanita (khususnya di negara industri) tidak dapat meraih berat sebelum hamil walaupun aktivitas pemberian ASI dilakukan. Hal tersebut umumnya terjadi akibat terlalu besarnya asupan kalori harian saat masa menyusui, ditambah dengan aktivitas tubuh yang rendah (Winvkist dan Rasmussen 1999). Namun walaupun mereka tidak dapat meraih berat badan sebelum hamil,bila dibandingkan dengan para ibu yang tidak memberikan ASI (dengan kondisi asupan kalori tinggi, aktivitas tubuh rendah), mereka tetap menunjukkan penurunan berat badan dibandingkan kelompok kedua tersebut (Kramer et al 1993).

Busui Yang Overweight dan Obesitas

Ibu yang telah mengalami overweight ataupun obesitas sebelum masa kehamilan diharapkan mengalami pertambahan berat badan yang tidak terlalu besar. Hal tersebut penting dilakukan agar berat badan setelah melahirkan tidak meningkat secara tajam.
Dari studi menyusui yang pernah ada, seorang busui dengan masalah obesitas cenderung pula memiliki masalah yang lebih banyak pada masa pemberian ASI. Hal tersebut membuat rata rata periode menyusuipun semakin singkat. Untuk mengatasi masalah tersebut, busui dengan kondisi tersebut memerlukan konsultasi pemberian ASI profesional agar sukses menyusui dapat dicapai.

Sayangnya, kebanyakan busui dengan keluhan berat badan “berlebih” cenderung lebih menyukai tindakan “diet” atau bahkan “stop ASI” agar kelebihan berat badannya tidak semakin bertambah. Padahal tindakan diet yang dilakukan, terutama pada masa pemberian ASI Eksklusif, akan memberikan efek negatif pada produksi ASI.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Strode et al (1986), di kondisi ekstrim asupan kalori yang kurang dari 1500-1700 kcal per hari dapat mengurangi 15% volume ASI yang diproduksi. Simpulan dari studi Mackey et al (1998) juga merekomendasikan agar busui jangan sampai melakukan diet (apalagi yang bertujuan untuk mereduksi BB) “tanpa” melalui konsultasi profesional dengan ahlinya karena hal tersebut akan memperbesar bahaya terjadinya under supply beberapa mikronutrisi yang ada di ASI. Karenanya jelas, tindakan diet (terlebih diet radikal) adalah tindakan tabu yang dilakukan selama masa pemberian ASI!.

Studi yang meneliti perubahan komposisi ASI pada busui yang overweight sayangnya belum banyak dilakukan. Hanya terdapat sedikit informasi yang menyatakan bahwa ASI dari busui yang kelebihan BB memiliki kadar lemak yang tinggi (Prentice 1994).
Produksi ASI Pada Ibu Malnutrisi

Satu kenyataan yang membahagiakan, wanita dengan masalah gizi ternyata tetap mampun memproduksi ASI secara normal. Namun, kondisi malnutrisi yang ekstrim dan berkepanjangan dapat mempengaruhi kandungan beberapa zat yang terdapat dalam ASI.
Asupan energi busui yang kurang dari 1500 kcal per hari ternyata dapat menurunkan produksi ASI sebesar 15%. Kandungan total lemak pun akan menurun disertai dengan perubahan pola asam lemak yang ada. Komponen imun dalam ASI (juga kolostrum) kuantitasnya akan rendah seiring dengan semakin buruknya status nutrisi busui.

Tabu tabu makanan “strik” yang kadang dijumpai di masa menyusui ternyata berpengaruh pada kondisi defisiensi vitamin-vitamin yang larut dalam air. Hal yang sering kali ditemui adalah rendahnya konsentrasi vitamin C dalam ASI. Berbeda dengan vitamin A, D, E, dan K yang larut dalam lemak, komposisi vitamin vitamin tersebut umumnya lebih bergantung pada status nutrisi busui dibanding asupan makanan sehari hari.

Adanya hubungan antara malnutrisi pada busui dengan komposisi ASI juga ditemukan pada konsentrasi mikronutrisi yodium dan selenium. Namun keterkaitan tersebut tidak dijumpai pada besi, zinc. kalsium dan magnesium. Artinya, di kondisi tersebut asupan harian busui tidak banyak mempengaruhi konsentrasi harian mineral mineral yang telah dikemukakan.

Seorang busui dengan masalah gizi non kronis, yang kerap kali hamil serta menyusukan anak anaknya beberapa tahun lamanya, ternyata tetap dapat menghasilkan ASI dengan kualitas dan kuantitas yang mencukupi. Temuan studi itu memang relatif”menenangkan”. Namun demikian, kondisi di atas bila dibiarkan berkepanjangan sedikit banyak akan mempengaruhi keadaan gizi sang ibu sendiri. Karenanya pemberian suplementasi amat diperlukan, khususnya demi kepentingan kesehatan dan status gizi sang ibu di masa depan.

Di daerah yang termasuk endemik defisiensi Vitamin A, diharapkan para ibu mengkonsumsi suplementasi vitamin A sebanyak 200.000 IU. Asupan tambahan vitamin tersebut hendaknya diberikan selama delapan minggu pertama setelah persalinan. Pemberian selama masa kehamilan hendaknya dihindari mengingat mungkin munculnya efek teratogenik pada janin. Suplementasi yodium juga perlu dilakukan pada bumil dan busui di daerah yang tergolong mengalami defisiensi yodium. Dengan pemberian supplementasi diharapkan konsentrasi mikronutrisi tersebut dapat meningkat dalam tubuh ibu.

Pemberian supplementasi makanan idealnya dimulai sebelum sang ibu menjalani kehamilan. Upaya tersebut juga perlu diteruskan saat mengandung bahkan setelah persalinan. Si kecil sendiri akan mendapatkan manfaat langsung dari pemberian suplementasi pada bumil dan busui walau perbaikan status gizi sang ibu belum memberikan hasil yang relevan.

Hal yang Penting Diingat dari uraian di atas, jelaslah bahwa busui tak perlu mengkonsumsi makanan “besar-besaran”. Kondisi “lapar” terus menerus yang dianggap sebagai efek pemberian ASI pada si buah hati bukanlah menjadi “pemakluman” busui dapat makan “tak terbatas”. Energi tambahan yang harus dicukupi dari asupan sehari hari ternyata hanya sekitar 300-500 kcal. Sebuah yoghurt dengan kadar lemak 3,5 % sebanyak 250-300 gr ternyata telah dapat mencukupi kebutuhan 300 kcal.

Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan pemberian ASI setelah sesudahnya memang terbukti dapat menurunkan berat badan busui yang umumnya meningkat setelah masa kehamilan. Namun perlu diingat, penurunan berat badan ini tidak dapat dicapai tanpa terpenuhinya faktor-faktor terkait seperti manajemen laktasi yang tepat dan pengaturan asupan kalori yang memadai.

Tidak tepat pula bila dikatakan seorang ibu yang kurus tidak dapat menghasilkan ASI yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Demikian pula sebaliknya, busui yang cenderung memiliki berat badan di atas rata rata juga tak pasti produksi ASI nya berbanding lurus dengan BB nya. Hanya dalam kondisi ekstrim malnutrisi berkepanjangan, kuantitas dan kualitas ASI dapat terpengaruh.

Jam-jam pertama  setelah melahirkan

Jam-jam pertama setelah melahirkan merupakan masa kritis bagi ibu maupun bayinya. Si ibu sedang menjalani pemulihan dari banyak perubahan fisik dan hormonal dramatis, yang disebabkan oleh proses kelahiran serta pengeluaran plasenta. Menurunnya hormon-hormon plasental memberi “isyarat” kepada tubuh ibu untuk mulai memproduksi ASI dalam jumlah cukup untuk segera memberi makan bayinya. Petugas yang membantu ibu melahirkan harus mengawasi apakah ada perdarahan yang tidak normal, dan harus memastikan bahwa ibu mendapat cukup nutrisi dan cairan. Kenyamanan fisiknya pun

harus tetap dijaga.

Pada saat yang sama, bayi baru lahir (neonatus) juga mengalami perubahan yang dramatis, yaitu memasuki dunia di luar kandungan. Sejumlah perawatan harus segera diberikan kepada bayi termasuk perhatian pada pernafasannya, sentuhan kulit-ke-kulit dengan ibunya, kehangatan, pemberian ASI segera dan secara eksklusif, dan perawatan tali pusat secara bersih. Untuk bayi yang sehat, langkah rutin pertama yang harus dilakukan setelah lahir adalah sentuhan kulit-ke-kulit dan pemberian ASI. Tindakan lainnya seperti perawatan tali pusat, perawatan mata, dan penimbangan berat badan dapat menyusul. Memandikan bayi tidak dianjurkan hingga beberapa jam setelah lahir. Menyedot mulut dan hidung bayi tidak perlu menjadi rutinitas, dan ini dilakukan hanya bila perlu untuk membersihkan kotoran yang menghalangi pernapasan bayi. Bayi yang menangis tidak perlu mendapat penyedotan. Jika penyedotan memang diperlukan, harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai jaringan lunak di dalam mulut dan tenggorokan bayi sehingga mengganggu pemberian ASI. Jadikan pemberian ASI sebagai langkah rutin pertama dalam satu jam pertama.Letakkan bayi agar terjadi sentuhan kulit-ke-kulit dengan ibunya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s